Rabu, 03 Mei 2017

Konservasi Koleksi

KONSERVASI KOLEKSI


Konservasi koleksi meliputi kegiatan observasi, perawatan dan pengawetan koleksi.

Berdasarkan Permendikbud no 28 tahun 2015, Pasal 17,  Bidang Perawatan & Pengawetan menyelenggarakan fungsi :
1.Pelaksanaan Observasi kondisi koleksi Museum Nasional
2.Pelaksanaan Uji laboratorium koleksi Museum Nasional
3.Pelaksanaan Perawatan koleksi Museum Nasional
4.Pelaksanaan pengawetan koleksi Museum Nasional, dan
5.Pelaksanaan Pemantauan lingkungan mikro koleksi Museum Nasional

Di dalam Pasal 19, Permendikbud no 28 tahun 2015 menyebutkan Bidang Perawatan & Pengawetan terdiri atas :
a. Seksi Observasi
b. Seksi Perawatan
c. Seksi Pengawetan

Tugas masing-masing seksi dijabarkan pada Pasal 20,Permendikbud no. 28 tahun 2015 yaitu ;
1.Seksi Observasi mempunyai tugas melakukan pendataan, klasifikasi, dan penentuan penanganan serta uji laboratorium koleksi Museum Nasional
2.Seksi Perawatan mempunyai tugas melakukan pembersihan, perbaikan, rekonstruksi, dan restorasi koleksi Museum Nasional
3.Seksi Pengawetan mempunyai tugas melakukan penguatan, pelapisan, dan pemantauan lingkungan mikro koleksi Museum Nasional

Sedangkan menurut Permendikbud no 27 tahun 2013 tentang rincian tugas Museum Nasional, yang diperbaharui dengan Permendikbud no. 37 tahun 2016 menyebutkan rincian tugas Bidang perawatan dan pengawetan yaitu :
a. Melaksanakan penyusunan program kerja bagian
b.Melaksanakan observasi kondisi koleksi Museum Nasional
c.Melaksanakan uji laboratorium koleksi Museum Nasional
d.Melaksanakan klasifikasi kondisi koleksi Museum Nasional
e.Melaksanakan rekomendasi penanganan koleksi Museum Nasional
f. Melaksanakan perawatan koleksi Museum Nasional
g.Melaksanakan pembersihan koleksi Museum Nasional
h.Melaksanakan perbaikan koleksi Museum Nasional
i.Melaksanakan rekonstruksi koleksi Museum Nasional
j.Melaksanakan restorasi koleksi Museum Nasional
k. Melaksanakan penguatan koleksi Museum Nasional
l. Melaksanakan pelapisan koleksi Museum Nasional
m. Melaksanakan fumigasi dan bentuk pengawetan lainnya koleksi Museum Nasional
n. Melaksanakan pemantauan lingkungan mikro koleksi Museum Nasional
o. Melaksanakan pemberian layanan teknis di bidang perawatan dan pengawetan koleksi benda bernilai budaya berskala nasional
p. Melaksanakan evaluasi perawatan dan pengawetan koleksi Museum Nasional
q. Melaksanakan penyimpanan dan pemeliharaan dokumen bidang
r. Melaksanakan penyusunan laporan bidang


SEKSI OBSERVASI
Seksi observasi melakukan pendataan kondisi koleksi sebelum koleksi di rawat atau diawetkan.  Pendataan kondisi koleksi meliputi pencatatan kondisi koleksi secara terperinci, kerusakan apa yang terdapat pada koleksi dan faktor penyebab kerusakan koleksi (ada 10 faktor perusak koleksi, seperti yang sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya).  Jenis kerusakan koleksi antara lain : tergores, aus, retak, berlobang, patah, hilang, berubah bentuk, lipatan, pudar, mengelupas, kerusakan cat, karat, rusak karena air, noda, permukaan kotor, rusak karena serangga, bekas restorasi, geripis, permukaan tidak rata.  Pendataan kondisi koleksi bisa melalui pengamatan visual, mikroskop maupun melalui uji laboratorium.

Pembuatan lembar kondisi koleksi dalam rangka pameran di dalam negeri (luar Museum Nasional) dan di luar negeri disusun oleh tim observasi.  Tujuan pembuatan lembar kondisi koleksi agar kondisi koleksi sebelum dipinjam dapat tercatat dan teradministrasi dengan baik, sehingga jika terjadi kerusakan baru akibat dari perjalanan dari dan kembali ke Museum Nasional atau pengepakan yang kurang baik atau akibat dari kesalahan memegang koleksi ketika membongkar, memajang ataupun melakukan pengepakan kembali dapat diketahui.

Tugas lainnya dari tim observasi yaitu melakukan klasifikasi kondisi koleksi sebelum di rawat dan atau diawetkan.  Klasifikasi yang diberikan berdasarkan tiga tingkatan yaitu kondisi ringan, sedang dan berat (parah).  Kondisi berat (parah) berarti koleksi itu perlu segera dilakukan perawatan dan atau pengawetan.

Berdasarkan hasil pendataan dan klasifikasi kondisi koleksi maka tim observasi memberikan rekomendasi penanganan koleksi.  Koleksi tersebut perlu dilakukan tindakan perawatan atau restorasi dan atau kegiatan pengawetan (pengendalian RH, fumigasi, konsolidasi, pelapisan dll)

Tim observasi juga melakukan kajian untuk menentukan penyebab kerusakan koleksi berdasarkan data kondisi koleksi yang telah dilakukan














Gambar 1 : Analisis Jenis Serangga Perusak Koleksi Museum


SEKSI PERAWATAN
Koleksi yang akan di rawat bisa berdasarkan hasil rekomendasi dari seksi observasi, program rutin perawatan dan atau permintaan dari bidang terkait (bidang panyajian & publikasi atau bidang registrasi & dokumentasi, bidang kemitraan & promosi, atau bidang pengkajian & pengumpulan).

Tindakan perawatan melakukan tindakan langsung pada koleksi.  Tim perawatan selain melakukan perawatan tingkat dasar (penghilangan debu, kotoran, noda, cat) juga melakukan perawatan tingkat lanjut (penghilangan korosi, mikroorganisme dll)

Selain melakukan perawatan koleksi, tim perawatan juga melakukan restorasi koleksi dengan kondisi yang rusak (patah, ikatan longgar, ada bagian yang lepas dll).  Kegiatan restorasi yang dilakukan antara lain menyambung, mengencangkan ikatan, menambal dll)

Sebelum melakukan perawatan koleksi, tim perawatan melakukan kajian perawatan untuk menentukan tindakan yang tepat terhadap koleksi.  Kajian bisa berupa menentukan jenis dan besar konsentrasi bahan perawatan dan restorasi yang paling aman untuk koleksi, maupun kajian perawatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan perawatan.

SEKSI PENGAWETAN
Seksi pengawetan melakukan tindakan pencegahan agar kerusakan koleksi bisa diminimalkan dengan cara antara lain melakukan pemantauan dan pengendalian lingkungan mikro koleksi baik di ruang simpan maupun ruang pamer koleksi.

Koleksi yang diawetan bisa berdasarkan hasil rekomendasi dari seksi observasi, program rutin pengawetan dan atau permintaan dari bidang terkait (bidang panyajian & publikasi atau bidang registrasi & dokumentasi, bidang kemitraan & promosi, atau bidang pengkajian & pengumpulan).

Tim pengawetan juga melakukan pelapisan koleksi untuk mencegah terjadi reaksi kimia antara lingkungan mikro koleksi dengan permukaan koleksi, sehingga kerusakan koleksi bisa diperlambat.

Fumigasi koleksi juga bagian dari tugas seksi pengawetan.  Fumigasi selain bertujuan untuk membasmi serangga dan mikroorganisme yang merusak koleksi, juga untuk mencegah terjadinya kerusakan koleksi sebelum serangga dan jamur tumbuh dan berkembang biak di koleksi.  Kegiatan fumigasi koleksi sudah tidak menggunakan bahan fumigan berbahaya, namun sudah menggunakan gas nitrogen dan metode manipulasi lingkungan serangga dan mikroorganisme secara ekstrem (metode pendinginan dengan menggunakan freezer -20 derajat C).  Bagaimana cara melakukan fumigasi anoxia dan dengan metode pendinginan akan dibahas pada tulisan selanjutnya

Konsolidasi juga dilakukan oleh tim pengawetan, untuk menguatkan struktur koleksi yang telah rapuh.  Bentuk pengawetan lainnya antara lain enkapsulasi, pembungkusan koleksi dll.  Tim pengawetan memberikan rekomendasi kepada bidang penyajian dan publikasi mengenai jenis lampu di ruang pamer atau lemari pajang, jenis dan bentuk bahan penyangga koleksi, dll yang berhubungan dengan penataan koleksi

Kajian pengawetan juga dilakukan sebelum tindakan pengawetan dilakukan untuk menentukan jenis dan konsentrasi bahan pengawetan yang aman untuk koleksi dan beberapa kajian yang berhubungan dengan tindakan pengawetan



Gambar 2 : Pemantauan Lingkungan mikro koleksi di ruang pamer

Semoga dengan tulisan ini semakin mengerti perbedaan kegiatan observasi, perawatan dan pengawetan


Jumat, 17 Februari 2017

Faktor Perusak Koleksi

10 FAKTOR PERUSAK KOLEKSI

Menurut Michalski 1990 dan Waller 1994,2003 ada 10 macam faktor perusak pada koleksi, yaitu :
1.Gaya Fisik
2.Kriminal
3.Api
4.Air
5.Hama (serangga, tikus, dan burung)
6.Pollutans (debu dan gas)
7.Cahaya
8.Temperatur yang tidak sesuai
9.Kelembaban Relatif yang tidak sesuai
10.Disosiasi

1.GAYA FISIK

Gaya fisik dan penyebabnya, yaitu :

Tipe Gaya Fisik                           Penyebab
Goncangan                                  Koleksi yang jatuh
Vibrasi                                         Gempa bumi, transportasi
Tekanan                                       Koleksi yang bertumpuk
Gesekan                                       Kontak dengan permukaan koleksi


Pengaruh terhadap koleksi yaitu patah, perubahan bentuk, robek, tergores, menjadi serpihan

2.KRIMINAL

Tipe kriminal ada 2 yaitu vandalisme dan pencurian.
Vandalisme yaitu perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya, misal mencorat coret koleksi dll

Pengaruh terhadap koleksi yaitu
Koleksi menjadi hilang dan koleksi terlihat tidak bagus

3. API

Asal api antara lain arus pendek listrik dari gedung, arus pendek listrik dari peralatan elektronik, tidak sengaja (rokok, lilin, kompor dll), faktor luar (gedung sebelah, kendaraan, hutan)

Pengaruh terhadap koleksi antara lain terbakar habis, terbakar sebagian, akumulasi noda hitam, perubahan bentuk

4. AIR

Asal air dari banjir dan bocor

Pengaruh terhadap koleksi antara lain koleksi mengalami perubahan bentuk, larut, akumulasi noda, jamur, korosi, disintegrasi, rapuh

5.Hama (serangga, tikus dan burung)

Pengaruh terhadap koleksi antara lain koleksi menjadi berlobang-lobang, akumulasi tanah, rapuh, noda, ada bagian koleksi yang  hilang

6. POLUTAN

Jenis polutan antara lain debu dan gas

Pengaruh terhadap koleksi antara lain akumulasi debu atau korosi

7.  CAHAYA

Jenis cahaya ada 2 yaitu cahaya alami dan cahaya buatan

Pengaruh terhadap koleksi antara lain rapuh, pudar dan menguning

8. TEMPERATUR YANG TIDAK SESUAI

Tipe                           Sumber                                  Pengaruh terhadap koleksi

Terlalu panas     Sinar matahari langsung,               Meleleh, perubahan bentuk, merangsang                                            lampu, api                                      pertumbuhan jamur

Terlalu dingin     Pendinginan ekstrem                     Embritllement, Kristalisasi

9. KELEMBABAN RELATIF YANG TIDAK SESUAI

Tipe                                          Pengaruh Pada Koleksi

Terlalu lembab                          Pertumbuhan jamur, Korosi, perubahan bentuk

Terlalu kering                            Embrittlement, hilangnya cairan

Fluktuasi                                    Retak, terbelah

10. Disosiasi

Ada beberapa penyebab terjadinya disosiasi, yaitu : salah meletakkan koleksi, dokumentasi tidak ada, dokumentasi tidak lengkap, dokumentasi tidak terbaca

Pengaruh terhadap koleksi yaitu kehilangan koleksi, sulit menemukan koleksi, hilangnya informasi tentang koleksi

 





Rabu, 15 Februari 2017

JENIS KOLEKSI MUSEUM

Apakah anda pernah ke museum?...Dahulu sebagian besar orang menilai museum adalah tempat yang sepi, menyeramkan, dan gelap.  Namun saat ini museum telah menjadi tempat rekreasi yang penuh dengan nuansa pendidikan.

Museum adalah tempat untuk menyimpan, memelihara dan memamerkan benda-benda cagar budaya yang sudah menjadi koleksi museum.  Tahukah anda ada berapa jenis koleksi museum berdasarkan material koleksinya?..

Koleksi museum dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan jenis materialnya :
1.Koleksi Organik
Koleksi organik merupakan materi yang mengandung senyawa karbon (C) dan hidrogen (H).  Sebagian besar koleksi organik di museum terbuat dari makromolekul yang disebut polimer, dapat berupa polisakarida (selulosa), protein, lignin, resin dan pigmen (Cronyn 1990 : 238).  
Contoh koleksi organik antara lain :
a. Kayu 
Komponen utama polimer selulosa
b. Kulit 
Komponen utamanya adalah protein dikenal dengan nama kolagen
c. Tulang, tanduk, gading, gigi.
Komponen utamanya adalah protein kolagen dan hidroksipatite yang merupakan mineral anorganik yang menyebabkan keras pada kolagen
d.  Cula, kulit penyu dan bule.  
Komponen utamanya keratin, yang merupakan deretan asam amino yang mengandung sulfur)
e.  Koleksi berbahan dasar serat,
Sumber serat berasal dari alam dan buatan, antara lain :
i. Serat  selulosa, contohnya benang yang digunakan dalam mengikat koleksi, berupa katun, rami
ii. Serat yang mengandung protein yaitu wool, rambut, sutra 
dll

Koleksi organik merupakan koleksi yang paling rentan mengalami deteriorasi (penurunan kualitas). 

2.Koleksi anorganik
Koleksi anorganik berasal dari senyawa yang tidak mengandung karbon dan hidrogen. 

Koleksi yang mengandung logam, seperti : 
a. Besi, 
b. Tembaga (campuran seng, timah, alumunium dan nikel)
c. Perak
d. Emas
e. Kuningan (paduan unsur logam yaitu tembaga dan seng dengan logam penyerta timah putih, timah hitam dan besi)
f.  Perunggu (Panduan tiga unsur logam yaitu tembaga dan timah putih dengan logam penyerta seng, timah hitam dan besi)

Koleksi anorganik non logam yang mengandung silika (SiO2), antara lain: 
a. Keramik (bahan dasar keramik terbuat dari lempung atau tanah liat jenis kaolinite)
b. Batuan
c. Kaca atau gelas (Kaca terbuat dari bahan batuan, khususnya pasir silika dengan cara mencairkannya).  Pada umumnya kaca bersifat transparan.

3. Koleksi campuran
Koleksi campuran merupakan koleksi yang terbuat dari material organik dan anorganik, misal koleksi keris.  Gagang keris terbuat dari tanduk, atau gading atau kayu sedangkan bilahnya terbuat dari material logam


Untuk lebih mengenal lagi material koleksi-koleksi museum, anda bisa datang langsung ke museum-museum di Jakarta maupun di daerah.

Ayo ke Museum

😎😊